[VIDEO] Banjir di Madinah 2013: Jasad Para Sahabat Ditemukan Utuh dan Masih Berdarah

[VIDEO] Banjir di Madinah 2013: Jasad Para Sahabat Ditemukan Utuh dan Masih Berdarah.

Advertisements

AYAT-AYAT KHUSUS PEMBINASA JIN (MENGHANCURKAN TUBUH SETAN)

Metafisis

Saya akan mengutip penjelasan dari Syaikh Muhammad Abduh Maghawuri dalam kitabnya Hiwarun Sahinun Ma’a Jinnin Muslimin Wa Jinnin Masihiyyin mengenai Pengalaman Beliau dalam membinasakan jin yang membandel dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Pada halaman 71 beliau menceritakan kisahnya:

Dalam pengembaraanku untuk mengadakan pengobatan ruqyah syar’iyyah dengan ayat-ayat Al_Qur’an ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya, yang mana pertanyaan-pertanyaan itu saya kira perlu untuk diketahui para pembaca. Inilah pertanyaan-pertanyaan tersebut:

Pertanyaan pertama : Bolehkah kita membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dapat membinasakan jin sampai tewas? Apakah ini termasuk perbuatan zalim atau bukan?

Jawab:

View original post 824 more words

Kajian Islami

Jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Masih Utuh

Al-‘Allamah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki wafat pada hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan 1425 H/ 29 Oktober 2004 M. Jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki dimakamkan di pemakaman Ma’la di Kota Suci Mekkah. Sudah menjadi peraturan di Kerajaan Arab Saudi, kalau ada makam yang sudah berusia 1 tahun, maka makam tersebut akan dibongkar dipindahkan untuk ditempati makam orang lain. Demikian juga di area pemakaman Ma’la di Kota Suci Mekkah, makam yang sudah berusia 1 tahun harus dibongkar dan dipindahkan untuk ditempati jenazah yang lain. 

Di antara jenazah-jenazah yang akan dibongkar karena sudah berusia 1 tahun di pemakaman Ma’la, terdapat jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki. Namun, pada saat makam Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki akan dibongkar dan digantikan jenazah lain. Betapa kaget dan herannya para petugas penggali makam, ternyata jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki masih utuh dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Dengan adanya kejadian tersebut, akhirnya jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki pun tidak jadi dipindahkan.

Kemudian, setelah jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki berusia 2 tahun, pemerintah Kota Suci Mekkah kembali memerintahkan para petugas makam di pemakaman Ma’la untuk memindahkan jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki. Lagi-lagi, kejadian 1 tahun sebelumnya terulang kembali, jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki masih utuh dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Bahkan, kuku dan rambutnya terlihat bertambah panjang setelah para petugas makam berniat memperbaiki posisi jenazahnya. Para petugas makam pun mengurungkan niatnya untuk memindahkan jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki dari makamnya.

Setelah sekian lama tidak ada perintah dari pemerintah Kota Suci Mekkah untuk memindahkan jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki. Pada tahun 2009, yaitu saat jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki berusia 5 tahun, pemerintah Kota Suci Mekkah kembali memerintahkan para petugas makam di pemakaman Ma’la untuk memindahkan jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki. Betapa kaget dan kagum para petugas penggali makam yang akan memindahkan jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki, ternyata jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki masih tetap utuh dan mengeluarkan bau yang sangat harum melebihi harumnya kayu gahru.

Dari kejadian-kejadian tersebut, banyak para pengikut Wahabi yang menyaksikan keistimewaan yang diberikan Allah swt. kepada jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki itu. Sehingga, banyak di antara pengikut Wahabi yang bertaubat dan beralih mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mudah-mudahan, kita sebagai pengikut paham Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi semakin yakin dan percaya bahwa Allah swt. akan melindungi wali-wali-Nya sejak masih hidup sampai sudah menjadi jenazah. Dan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini adanya Waliyullah dan percaya bahwa Allah swt. memiliki hamba-hamba pilihan di dunia ini. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah percaya adanya karamah dan percaya bahwa pahala doa, tawassul, dzikir dan bacaan Al-Qur’an orang yang masih hidup bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia.

Wallahu A’lam

Mengapa Ibu Harus Diutamakan?

SETIAP manusia tentu sudah tahu bahwa orang yang paling besar jasanya terhadap dirinya adalah ibunya. Ibu telah mengandung dengan susah payah selama sembilan bulan lebih. Pada saat melahirkan nyawa pun dipertaruhkan. Rasa sakit yang demikian menyengat tak dirasakannya.Setelah itu, sebagaimana orang yang telah bekerja keras, ibupun selepas melahirkan ingin istirahat. Namun jangankan istirahat, kewajiban lebih besarpun menanti. Yaitu menyusui, menggendong, memandikan, membersihkan saat buang kotoran, bangun malam di saat badan ini sangat letih hanya untuk mengganti popok atau menenangkan bayinya yang terbangun serta masih banyak lagi. Walhasil tambah ke sini malah tambah berat.Ibulah yang mendidik anak, melindunginya, memilih dan memberikan yang terbaik dari yang dimilikinya, menjadi tempat kembali jika ada masalah serta penyelesai dari setiap problem anak. Jasa ibu sungguh tak terkira. Untuk itulah ibu patut mendapat penghargaan demikian besar dari anaknya.Rasulullah SAW sampai menyebutkan tiga kali. Artinya kalau ada seorang anak empunyai harta yang banyak. Ia ingin menginfakkan hartanya. Maka ibu menjadi prioritas untuk diberikan hartanya. Setelah ia memberi harta pada sang ibu, ia masih ingin bersedekah. Maka sedekah keduapun mestinya diberikan kepada ibunya hingga yang ketiga. Baru kepada ayahnya.Ayah memang orang yang tak sedikit jasanya kepada kita. Namun ibu lebih dekat dengan kita, karena itu fitrahnnya. Sehingga kelekatan hati seorang anak dengan ibunya begitu kuat. Mengalahkan kelekatan dengan sang ayah. Seorang ayah pun akan rela kebaikan anak diberikan terlebih dahulu kepada istri yang menjadi ibu anaknya.Setelah ayah, baru kerabat dekat yang wajib dibaiki dan ditaati. Terutama paman dan bibi yang akan menjadi pengganti orang tua jika kelak orang tua kita tiada. Dan seterusnya. Sehingga seorang muslim tahu prioritas mana yang harus dijalin hubungan baik dan ditaati. Jangan sampai salah prioritas. Mentang-mentang kita sangat sayang kepada anak atau istri, kita melupakan ibu kita sendiri. Ibulah nomor satu. Dia memang berhak mendapatkan ini. [Islampos]

Mengapa Ibu Harus Diutamakan?SETIAP manusia tentu sudah tahu bahwa orang yang paling besar jasanya terhadap dirinya adalah ibunya. Ibu telah mengandung dengan susah payah selama sembilan bulan lebih. Pada saat melahirkan nyawa pun dipertaruhkan. Rasa sakit yang demikian menyengat tak dirasakannya.Setelah itu, sebagaimana orang yang telah bekerja keras, ibupun selepas melahirkan ingin istirahat. Namun jangankan istirahat, kewajiban lebih besarpun menanti. Yaitu menyusui, menggendong, memandikan, membersihkan saat buang kotoran, bangun malam di saat badan ini sangat letih hanya untuk mengganti popok atau menenangkan bayinya yang terbangun serta masih banyak lagi. Walhasil tambah ke sini malah tambah berat.Ibulah yang mendidik anak, melindunginya, memilih dan memberikan yang terbaik dari yang dimilikinya, menjadi tempat kembali jika ada masalah serta penyelesai dari setiap problem anak. Jasa ibu sungguh tak terkira. Untuk itulah ibu patut mendapat penghargaan demikian besar dari anaknya.Rasulullah SAW sampai menyebutkan tiga kali. Artinya kalau ada seorang anak empunyai harta yang banyak. Ia ingin menginfakkan hartanya. Maka ibu menjadi prioritas untuk diberikan hartanya. Setelah ia memberi harta pada sang ibu, ia masih ingin bersedekah. Maka sedekah keduapun mestinya diberikan kepada ibunya hingga yang ketiga. Baru kepada ayahnya.Ayah memang orang yang tak sedikit jasanya kepada kita. Namun ibu lebih dekat dengan kita, karena itu fitrahnnya. Sehingga kelekatan hati seorang anak dengan ibunya begitu kuat. Mengalahkan kelekatan dengan sang ayah. Seorang ayah pun akan rela kebaikan anak diberikan terlebih dahulu kepada istri yang menjadi ibu anaknya.Setelah ayah, baru kerabat dekat yang wajib dibaiki dan ditaati. Terutama paman dan bibi yang akan menjadi pengganti orang tua jika kelak orang tua kita tiada. Dan seterusnya. Sehingga seorang muslim tahu prioritas mana yang harus dijalin hubungan baik dan ditaati. Jangan sampai salah prioritas. Mentang-mentang kita sangat sayang kepada anak atau istri, kita melupakan ibu kita sendiri. Ibulah nomor satu. Dia memang berhak mendapatkan ini. #Islampos